Jumat, 11 Mei 2012

 Partai Lolos PT Bisa Calonkan Presiden
 "Sehingga nggak pusing harus koalisi yang hanya sekedar menyuburkan politik uang."
 
 Yuddy Chrisnandi
MEDIA INFORMASI - Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai Hanura, Yuddy Chrisnandi, menyatakan partainya berharap persyaratan minimal suara dalam Pemilu untuk mencalonkan presiden dihapuskan. Konkretnya, Hanura akan mengusulkan agar setiap parpol yang telah menang pemilu dan lolos ambang batas parlemen dapat mengajukan calon presiden.

"Oleh karena itu Partai Hanura fokusnya adalah bagaimana melampaui parliamentary threshold," kata Yuddy di Hotel Atlet Century, Jakarta, Jumat 11 Mei 2012.

"Hanura juga berpendapat bahwa ke depan partai-partai yang sudah lolos parliamentary threshold selayaknya bisa mencalonkan presiden sendiri, sehingga nggak pusing harus koalisi dan lain sebagainya yang hanya sekedar menyuburkan politik uang dan transaksional dengan koalisi-koalisi ini," ujar Yuddy.

Jika pencalonan presiden tersebut bisa dilakukan oleh parpol yang lolos ke parlemen, menurut Yuddy, partainya akan dapat mengusung Wiranto sebagai capres di tahun 2014 mendatang. "Jadi dengan ketentuan bahwa setiap partai yang lolos PT bisa mengajukan calon presidennya sendiri, hampir dapat dipastikan Hanura akan mencalonkan Pak Wiranto," kata Yuddy.

Ketika ditanya siapa yang bakal menjadi pasangan Wiranto jika Hanura mengajukannya sebagai capres, menurut Yuddy, kriteria cawapres tersebut harus tokoh muda. "Yang pasti lebih muda. Kan semua juga tren-nya begitu, mencari yang lebih muda," kata Yuddy.

Yuddy menjelaskan, hingga saat ini Wiranto belum memberikan jawaban untuk menerima atau tidak rekomendasi partainya tersebut, menurut Yuddy, hal itu tidak menjadi masalah bagi partainya saat ini. "Pak Wiranto belum menjawab apakah beliau menerima atau tidak dukungan-dukungan yang begitu kuat dari mayoritas daerah itu. Tapi kalau ditanyakan kesiapan, beliau sangat siap," ujar Yuddy.

Hanura, menurut Yuddy, merasa mantap untuk langkah mengusung Wiranto sebagai capres mendatang karena meyakini bahwa Wiranto merupakan tokoh dengan kemampuan dan integritas untuk menjadi pemimpin nasional. "Jadi dari sisi personal, beliau sangat siap. Namun beliau belum menjawab dukungan yang sangat kuat dari partai," kata Yuddy.

Alasan Wiranto belum mau menjawab usulan dan tawaran partainya untuk menjadi capres mendatang tersebut adalah karena masih sibuk dengan urusan partai sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.

Hanura tidak terlalu mempermasalahkan beragam hasil survei yang ada saat ini terkait popularitas maupun elektabilitas Wiranto sebagai capres. "Survei-survei yang dilakukan sekarang ini masih fluktuatif dan subjektif. Tapi kan ini dinamis, pada suatu saat nanti juga tentu dinamika politik akan secara alamiah ada perubahan-perubahan preferensi masyarakat," kata Yuddy.

Kamis, 10 Mei 2012

"Konvensi Capres Tak Sesuai AD/ART Demokrat"
 Rachland Nashidik
MEDIA INFORMASI - Sekretaris Departemen Hak Asasi Manusia Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat, Rachland Nashidik, menyatakan ide konvensi calon Presiden di Partai Demokrat tak bisa dilaksanakan. Problem pertama, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Demokrat mengatur mekanisme penetapan calon Presiden oleh Majelis Tinggi Demokrat.

"Kedua, gagasan itu tidak jelek, namun kondisi politik yang penuh politik uang, tentu membuat politik transaksi akan terjadi jika konvensi digelar," ujar Rachland pada hari Rabu 9 Mei 2012 malam.

Akibatnya, kata Rachland, konvensi calon Presiden justru akan menjerumuskan Partai Demokrat dalam politik oligarki yang dikendalikan uang. Politik, kata mantan aktivis hak asasi manusia itu, harusnya dikendalikan akal sehat dan aspirasi akar rumput.

Karena itu, "Saya usul pada Pak Achmad Mubarok yang mengusulkan itu, agar dicegahlah upaya-upaya memberikan pepesan kosong pada orang di luar partai dengan peluang konvensi ini," kata Rachland.

Selasa lalu, Anggota Dewan Pembina Demokrat Achmad Mubarok menyatakan, konvensi yang bakal dihelat Demokrat ini berbeda dengan konvensi yang dulu digelar Partai Golkar. "Kalau Golkar dulu bentuknya konvensi tertutup, hanya menjaring tokoh internal Golkar. Kalau Demokrat siapa saja boleh daftar,” kata Mubarok kepada VIVAnews, Selasa 8 Mei 2012.

Menurutnya, tokoh-tokoh yang mendaftarkan diri pada konvensi Demokrat nantinya akan ditawarkan ke publik. “Bukan hanya dalam bentuk survei, tapi juga semacam referendum – siapa yang elektabilitasnya paling tinggi,” dia menambahkan.

Sementara itu, ia membantah Demokrat secara spesifik mengincar politisi Golkar yang juga mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla, untuk diusung sebagai calon presiden.

“Setelah tidak menjadi wakil presiden, JK bagus sebagai negarawan karena ia tidak pernah mencerca orang. Tapi bagus sebagai mantan wakil presiden belum tentu bagus untuk dicalonkan menjadi presiden,” kata Mubarok.

Rabu, 09 Mei 2012

Sesepuh Golkar Kumpul di Yogya Jumat Depan
 Rapat Koordinasi Teknis Golkar Sulawesi
MEDIA INFORMASI - Rapat Konsultasi Nasional Partai Golkar akan digelar di Yogyakarta, 11 hingga 14 Mei 2012 yang akan datang. Direncanakan ketua dan sekretaris 33 DPD I Partai Golkar se-Indonesia, Ketua Umum Aburizal Bakrie dan pengurus DPP Partai Golkar akan hadir dalam acara tersebut.

“Para sesepuh Golkar seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ginandjar Kartasasmita, dan tokoh-tokoh senior lainnya yang telah membesarkan Partai Golkar akan hadir dalam acara Rapat Konsultasi Nasional Partai Golkar yang akan di gelar di Saphir Hotel Yogyakarta,” kata Gandung Pardiman, Ketua DPD I Partai Golkar, DIY, Rabu 9 Mei 2012.

Sebelum pembukaan, Ketua DPD dan Sekretaris DPD I se-Indonesia akan bersilaturahmi dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, yang juga adalah tokoh senior Partai Golkar, di Keraton Kilen.

“Dalam Rapat Konsultasi Nasional itu nantinya akan dibahas tentang perkembangan politik terkini dari dalam dan luar Golkar, termasuk pemenangan daerah untuk Aburizal Bakrie sebagai calon presiden dari Partai Golkar untuk periode 2014-2019 yang akan datang,” kata Gandung.

Gandung menyatakan dalam Rapat Konsultasi Nasional itu akan ada pernyataan sikap dari para pengurus DPD II se-DIY serta DPD I DIY yang mendukung penetapan Ketua Umum Partai Golkar sebagai calon presiden. “Saya berharap nantinya 33 DPD I Golkar se-Indonesia juga menyatakan sikapnya untuk mendukung Ketua Umum Partai Golkar sebagai capres Golkar,” katanya.

Dia meminta Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung untuk tidak terus menggulirkan perdebatan tentang penetapan capres Partai Golkar berdasarkan mekanisme konvensi atau survei. Menurut dia, perdebatan itu memancing gejolak di daerah.

“Syahwat-syahwat politik janganlah diumbar, karena dari pengalaman yang ada ketika Golkar mencapreskan seseorang melalui konvensi justru berakibat pada kerusakan moral pengurus struktural dan biaya untuk memperbaikinya sangatlah mahal. Capres yang diusung Golkar melalui konvensi terbukti gagal karena tak didukung penuh oleh pengurus Golkar yang jagonya kalah dalam konvensi,” katanya.

Selasa, 08 Mei 2012

Buat Apa Anggota DPR Punya Senjata Api
 
 Sejumlah anggota DPR memiliki senjata api
MEDIA INFORMASI - Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Tubagus Hasanuddin, mengaku prihatin dengan maraknya penggunaan senjata api. Dia meminta kepemilikan senjata api, termasuk yang dimiliki koleganya, segera ditertibkan.

"Tarik senjata api dari sipil dan tertibkan yang dipegang oleh aparat," kata  Hasanuddin  .

Menurut dia, seharusnya senjata api hanya dipegang oleh aparat. Selebihnya, senjata-senjata itu sangat rawan digunakan untuk tindak kejahatan.
"Ini sekarang terbalik, sipil pun diperbolehkan bawa senjata. Jumlahnya sudah terlalu banyak," ujar Hasanuddin. "Sekarang ini kan ribuan senjata berkeliaran di sipil, saya tidak setuju."

"Tarik saja dan larang penggunaan senjata oleh sipil. Lalu, polisi tingkatkan perlindungan kepada masyarakat sipil dari kejahatan," lanjut Hasanuddin.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini juga mengritik kepemilikan senjata api oleh sejumlah anggota dewan. "Ada anggota dewan memegang senjata, pengacara juga. Buat apa anggota DPR memegang senjata api?" katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR, Pramono Anung, mengatakan sejumlah anggota dewan memiliki senjata api. Sesungguhnya, menurut dia, mereka tak perlu memilikinya.

"Saya mendengar ada beberapa orang anggota DPR yang memiliki senpi. Tapi saya tidak tahu dia komisi berapa. Yang saya dengar, ada beberapa yang memiliki dan itu ada izin resminya," kata Pramono.

"Pokoknya ada, fraksinya tahu." ujar politisi PDIP bersikukuh tidak menyebut nama.

Keterangan Pramono itu juga diakui oleh  Mabes Polri yang mengeluarkan izin kepemilikan senjata. Bahkan, saat ini Mabes Polri tengah mempertimbangkan penarikan senjata api oleh anggota dewan itu.

"Tidak banyak yang memiliki. Tapi kami dapat mempertimbangkan penarikan itu," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution.

Senin, 07 Mei 2012

Hayono Isman: Bila Tersangka, Anas Berhenti
 
 Anas Urbaningrum di KPK
MEDIA INFORMASI - Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman menegaskan bahwa bila status Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menjadi tersangka, maka Anas tidak bisa lagi duduk di kursi kepengurusan partai. Demokrat mengaku terganggu dengan kasus-kasus yang terus mendera.

"Sikap kami jelas bahwa  siapa pun pengurus apakah di departemen, pengurus harian, termasuk Ketua Umum apabila jadi tersangka maka otomatis berhenti sebagai pengurus," kata Hayono Isman di gedung DPR, Jakarta, Senin 7 Mei 2012.

Menurut Hayono, tidak perlu digelar Kongres Luar Biasa bila kasus ini menyeret Anas Urbaningrum menjadi tersangka. Karena Demokrat memiliki struktur untuk mengurus soal itu yakni di Majelis Tinggi.

"Tidak harus sampai KLB. Bisa ke majelis tinggi, karena punya kewenangan untuk menunjuk ketua sementara. Semua kader siap menyelamatkan partai," ujar politisi Demokrat yang juga Wakil Ketua Komisi I Bidang Luar Negeri DPR ini.

Hayono mengakui bahwa kasus-kasus yang menjerat politisi Demokrat itu cukup mengganggu citra partai. Maka itu, Hayono mengimbau Komisi Pemberantasan Korupsi untuk tidak mengulur-ulur terus kasus ini. Segera tuntaskan. "Jangan lama-lama," kata Hayono mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini.

Nama Anas terus disebut dalam kasus proyek pembangunan pusat olahraga Hambalang, Bogor, Jawa Barat, senilai Rp1,2 triliun. Anas sendiri sudah beberapa kali membantah terlibat kasus dugaan korupsi.

Anas juga membantah disebut sebagai calo sertifikat tanah untuk membebaskan lahan. Dalam kasus ini, KPK juga sudah memeriksa istri Anas yang juga menjabat komisaris di PT Dutalaras.

Minggu, 06 Mei 2012

Ical: Menangi Gubernur Dulu, Baru Nanti Menang Terus
Aburizal Bakrie (Foto:Ist)
Aburizal Bakrie
JAKARTA- Kader Kosgoro 1957 mendukung Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie  untuk maju dalam pemilihan presiden dari Partai Golkar pada 2014 mendatang.

Menanggapi hal itu, Pria yang akrab disapa Ical ini, hanya tersenyum. Terlebih ketika dia ditanya soal pemilihan presiden untuk tahun 2014 oleh seorang pembawa acara gerak jalan santai Kosgoro 1957 tahun 2012di Monumen Nasional, Minggu (6/5/2012).

Bagaimana pak Ical untuk Pilpres 2014?

"Pokoknya jalan santai dulu, rilek aja dulu. Kita menangi Gubernur dulu, baru nanti akan menang terus," ucap Ical.

Hari ini, Ratusan kader Kosgoro 1957 berserta segenap warga Jakarta melakukan gerak jalan mulai dari Monumen Nasional (Monas) sampai Bunderan Hotel Indonesia (HI). Selain Ical, nampak juga hadir pasangan Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta Alex Noerdin dan Nono Sampono di acara itu.

Sabtu, 05 Mei 2012

"Tak Mau Dihempas Angin, Jadi Rumput Saja"
 Kampanye Golka
MEDIA INFORMASI - Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, mengatakan tidak ada masalah internal partainya. Seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar tingkat provinsi dan kota/kabupaten se-Indonesia, kompak mendukung.

Meski begitu, diakuinya, memang ada pihak-pihak tertentu di luar itu yang sengaja menciptakan opini bahwa sedang ada masalah di dalam organisasi partai kuning itu. Namun, hal itu wajar karena Golkar sebagai partai populer.
"Banyak yang menggoda (kesolidan Partai Golkar). Ada yang menciptakan (situasi) seolah Golkar pecah," ujarnya saat membuka Rapat Kerja Daerah Partai Golkar Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 5 Mei 2012.

Tetapi, imbuhnya, hal itu bukan masalah bagi Partai Golkar. Ia menganalogikan partainya seperti pohon yang dihembus angin. "Kalau tidak mau dihempas angin, lebih baik jadi rumput. Tapi, rumput diinjak-injak," ujarnya.

Semua media massa sekarang juga menyorot pencapresan Partai Golkar. "Itu yang terjadi sekarang. Kalau partai lain, tidak dilihat (disorot). Itu tanda Golkar makin populer, makin kuat. Jadi iklan gratis juga bagi Golkar," tuturnya.

Ia secara khusus menyinggung seorang kader Golkar di Aceh yang menyoal mekanisme penetapan capres dari Partai Golkar. Bahkan, mengklaim mengatasnamakan DPD II Partai Golkar se-Indonesia. Padahal, dia melanjutkan, DPD II atau pun DPD I se-Indonesia telah mendukung sepenuhnya hasil keputusan Rapimnas II tahun 2011.

"DPD Golkar Aceh pun, sudah menyatakan mendukung. Artinya, memang tidak ada masalah (di internal Partai Golkar)," paparnya. Jika masih ada yang menyoal mekanisme pencapresan, Aburizal menyarankan untuk membaca kembali keputusan-keputusan Rapimnas II. Sebab, hal itu merupakan konstitusi partai yang dihasilkan dari forum tertinggi kedua setelah Munas.